BabiEna
Dua hari yang lalu aku nonton Discovery Channel yg lagi muter dokumenter masyarakat Wamena, Papua. Dokumenter yg lebih bergaya program wisata itu dibawain dua host bule. Bagian yg paling menarik adalah kegiatan masyarakat pribumi berburu di sungai. Menarik karena apa yg mereka buru pernah aku makan pas lagi berkunjung di Wamena, akhir Agustus lalu. Orang-orang Wamena nyebutnya 'udang selingkuh'. Kenapa disebut begitu? Sekujur tubuh udang ini, dari ujung kepala sampe ujung ekor, berwujud udang. Tapi si bongkok ini punya dua capit. Jadi, diduga hasil love affair nenek moyang udang dan kakek moyang kepiting yg waktu itu mungkin lagi berfantasi buat nyoba something different.
Balik lagi ke dokumenter, udang-udang liar yg ketangkep tampak kelojotan di daratan. Untuk menyantapnya, masyarakat pribumi ga perlu repot2 masak asam manis atau saus tiram apalagi goreng tepung saus bolognaise. Mereka simply bakar, kupas, makan. Beda dibanding yg aku makan waktu itu. Sekitar 10 ekor udang sepanjang 5-20 cm meringkuk di atas piring dibanjiri saus mentega. Kulitnya memerah karena alergi panas. Yummy!! Dimakan bareng nasi anget plus tumis kangkung.
Seorang polisi yg setia nemenin perjalanan aku dan temen2 di Wamena banyak cerita tentang distrik yg (katanya) berasal dari kata 'Wam' yg dalam bahasa setempat berarti babi dan kata 'Ena' yg artinya apaaaaa gitu. Secara harafiah penamaan itu bisa jadi masuk akal karena memang distrik yang berada di lembah Pegunungan Jayawijaya itu banyak berseliweran babi. Bahkan, kata polisi itu manusia-manusia pribumi banyak meniru tingkah laku si ekor ikal. Ini baru ga masuk akal.
Wamena bisa dicapai 45 menit dengan perjalanan pesawat dari Jayapura. Peak season di Wamena adalah menjelang 17 Agustus karena rutin digelar Festival Lembah Baliem. Salah satu tempat yg jadi obyek wisata di Wamena adalah Kampung Kurulu. Kurulu dan Wamena pada umumnya berhawa sejuk dengan suhu turun 3-5 derajat celsius pada malam hari. Kampung ini terkenal dengan mumi kepala suku yg selalu jadi obyek foto turis2. Ada gula ada semut. Peluang ini dimanfaatkan penduduk kampung untuk komersialisasi mumi dan diri mereka sendiri. Sebagian mereka yg dlm aktivitas sehari-hari sudah berpakaian ala kebanyakan manusia, rela berbugil ria ketika mendengar deru kendaraan pembawa turis. Tujuannya adalah mencari rupiah dengan menjadi obyek foto. Ga sedikit juga yg berkeliaran di luar kampung, di tempat2 publik semisal bandara dengan tujuan yg sama. Yap, 'jual diri'!
Kehidupan mereka kadang menimbulkan keprihatinan, tapi lebih sering tanpa sadar dianggap sebagai obyek tontonan dengan nilai 'eksotis'. Sama eksotisnya dengan keindahan alam Papua secara umum yg menimbulkan dilema antara mau dibiarkan 'indah' tapi tertinggal atau diubah menjadi moderen tapi keilangan eksotisme itu sendiri. Keindahan-keindahan itu menjadi salah satu penghipnotis makhluk-makhluk Jakarta yg pernah tugas di sana, termasuk aku dan beberapa teman, untuk selalu pengen balik ke sana.
Di kantor, kemarin aku ketemu seorang teman yg sama2 alumni Papua. Dia ngaku ga keberatan kalo disuruh tugas lagi di Papua. Di sela2 obrolan kami, lewatlah Bunga (nama samaran), seorang reporter perempuan, dan berlangsung bla..bla..bla.. singkat berikut.
Teman: Bunga, dapet salam dari F.
Bunga: Loh, emang ketemu dimana?
Teman: Dia kan ditugasin di Papua.
Bunga: (memasang muka iba tapi tetep keliatan sinis) Ooo... kasian...
Teman & Aku: (saling pandang terdiam 1 detik)
Aku: Kasian? Belum tau dia... kasian...

kuacian deh 'dia'...yg belOm tau ttng jayapura...hehehehe...kasi tau 'dia' dOnk mas aDi ;p
Posted by: ellisabeth | September 18, 2007 09:38 PM